Tanah airku yang kucintai…

23 02 2007

Oh tanah airku…betapa air matamu semakin mengalir seiring waktu doa bertaut…

Ya, bagaimanapun ini adalah kuasa Maha Pencipta. Gempa, tsunami, tanah longsor, banjir, gunung meletus, sampai musibah pesawat jatuh, kapal tenggelam, terbakar, dan seterusnya. Aku berpikir dan merenung, apakah sudah separah inikah moral anak bangsa sehingga mendapat azab dari Yang Maha Kuasa?

Selalu dialihkan semuanya itu normal, ada masalah teknis, gejala alam biasa, dan ulasan lainnya. Tanpa pernah menoleh dan berbisik, toh semuanya, apapun bentuknya itu, berasal dari Allah. Seburuk kejadian merupakan pelajaran dan peringatan dariNya. Kenapa banyak sekali orang berpaling dariNya.

Musibah beruntun, setiap minggu, bahkan dalam hitungan hari, semakin menakutkan. Takut akan azab ini berlangsung tanpa pernah disadari oleh kita. Naif, apabila kita selalu bicara jangan menghubungkan dengan Tuhan. Naif, kalau kita selalu bicara mengagungkan sikap dan perilaku kemanusiaan kita.

Coba lihat. Coba dengar apa kata orang-orang. Penguasa hanya bisa menyabarkan, tanpa pernah mengakui kesalahan. Para pejabat berlomba berbicara di depan mass media akan andil mereka dalam menolong para korban. Tanpa pernah melihat kesengsaraan anak bangsa. Kita dipermainkan oleh mereka, tanpa mereka sadar mempermainkan kita. Kita harus bangkit. Bangkit! Jangan mau dizolimi lagi. Bangsa ini milik kita. Tanah ini milik kita. Udara ini milik kita. Allah menitipkan kepada kita untuk kita jaga, kita bela, kita lestarikan, kita zikirkan, kita sedekahkan, kita lafazkan dalam namaNya.

Seberapa besar pengorbanan yang bisa kita terima. Seberapa keras tangis dan uraian air mata. Apakah sebanding dengan perbuatan kita?

Bagaimana mau memberi kabar tentang kemarahan alam, kalau kita selalu dengan kejam semena-mena dengan alam. Bagaimana kita bisa mendengar desah kesakitan alam, kalau omong besar kita selalu dikedepankan.

Mari. Marilah bermalas diri. Bermalas diri untuk menggerakkan raga dan jiwa di jalan yang tidak benar selama ini. Bergegaslah. Gesit dan sigap saling mengerti dalam kehidupan alam raya ini. Kita manusia hanya satu dari sekian banyak mahluk Sang Khalik. Jangan sia-siakan rasa cintaNya yang telah memberi banyak kemampuan pada diri manusia melebihi mahluk lainnya. Lafazkan namaNya dalam gerak raga dan jiwa. Kembali ke arah yang benar.

Semoga tanah airku kembali masyur. Dengan kebanggaan akan sifat keramah tamahanannya. Gotong royong. Bersama-sama. Menuju Indonesia Raya yang jaya.

Semoga tanah dan air dalam negeriku aman dan tenteram, dalam dekapan kasih dan sayang kita, mahluk berakal yang mendiaminya.


Tindakan

Information

3 tanggapan ke “Tanah airku yang kucintai…”

1 03 2007
Evy (01:05:14) :

Amien ya robbal Alamien

3 03 2007
senyumsehat (11:09:55) :

jadi inget lagu Indonesia Pusaka, anak2 sekarang masih bisa nyanyiin ga ya?

5 03 2007
haysnaidra (13:45:13) :

@evy
kalau di sekolahnya anak saya sih masih, jeng… yang jadi soal ya para orang tua anak-anak, apa masih inget?…
pernah beberapa waktu lalu ada teman sekantor yang bertanya “apa sih judul lagu mengheningkan cipta?”… hahaha… semuanya pada salah… bahkan beberapa teman (termasuk saya sendiri…hehehe…) salah menyanyikan lagunya… semua pada termenung sedih juga loh… jadi malu-maluin aja…
kalau mau cerita lengkapnya coba baca di weblog-nya si Nike

Tinggalkan komentar

Anda dapat gunakan tag ini : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>