Siang itu aku berjalan di bawah pancaran terik matahari. Waktu menunjukkan pukul 12.30 siang. Penat. Keringat. Lelah. Ya, Baru di alam fana ini saja sudah terasa begitu menakutkan hatiku. Bagaimana di alam pengujian nanti ya. Na’uzubillah min Zalik.

Kulihat seorang bapak tua dengan kondisi tubuh yang sudah lelah. Dipaksakannya mengkayuh becak yang berisi tiga orang penumpang. Itu pun masih ditambah beberapa barang lain yang dibawa oleh penumpang tersebut. Aku pernah mengalami hal seperti itu. Aku sempat tersentak. Entah apa yang membuatku tiba-tiba merasa ada “sesuatu” dalam pikiranku. Sudah terbiasa dalam diriku, kalau ada yang salah atau sesuatu apalah, maka akan terasa dalam detak jantungku. Lalu ini apa? Apa yang harus aku perhatikan? Apa yang harus aku cari? Apa yang harus aku rasakan? Apakah ada yang sesuatu hal yang terasa begitu penting pada penumpang atau si orang tua penarik becak?

Kebetulan karena waktu itu jalanan sedikit menanjak naik sehingga memberiku lebih banyak waktu untuk memperhatikannya. Setarikan napas aku mulai dapat merasakan “sesuatu” itu. “HIDUP” … ya … hanya satu kata itu yang terhirup dalam aliran nafasku. Pada satu titik, “HIDUP” bukan lagi tentang bagaimana diriku menghisap oksigen agar aku dapat tetap bernafas. Bukan juga bagaimana kalau aliran darah dalam arteri-arteri tubuhku atau jantungku berhenti.

Terbayang olehku si bapak tua tadi, demi kelangsungan hidupnya yang dibatasi oleh berbagai kekurang mampuannya, ia rela menarik becak. Usia yang sudah tua, tenaga yang telah tergerus waktu, tidak mematahkan semangatnya untuk meneruskan kelangsungan hidupnya. Aku tak tahu, apakah benar ia rela untuk sekedar menjadi penarik becak. Mudah-mudahan jawabannya: YA. Kerelaannya tentunya akan lebih menambah makna hidupnya. Aku sedikit tersenyum miris ketika aku mencoba menempatkan diriku pada posisi bapak tua itu. Entahlah … apa aku bisa menjadikan semangat untuk hidup itu menjadi setetes dahaga di bawah teriknya matahari …